Posted on

Saat Saya Menanam Tanaman Buah Di Lahan Terbatas

Bersyukurlah Anda bila Anda memiliki pekarangan luas apalagi bila Anda memiliki hobi bertanam. Kenapa? Karena tidak semua orang yang mempunyai hobi bertanam memiliki pekarangan yang luas untuk menyalurkan hobinya. Memang, sekarang ini metode penanaman dengan menggunakan pot atau yang biasa di kenal dengan tambulapot sudah lazim dan sudah di lakukan banyak orang. Namun, bagi beberapa orang apalagi pemula hal tersebut masih belum bisa dilakukan karena kurangnya informasi bagaimana perawatannya. Tidak semua tahu bagaimana apa pupuk yang di gunakan dan bagaimana pemberian nutrisinya dan lain sebagainya.

Yang paling mudah menanam tanaman buah seperti ini memang di tanah secara langsung. Selain pertumbuhan tanaman bisa lebih cepat, tanaman juga akan lebih cepat berbuah. Hal tersebut sangat dimaklumi karena tanah asli terdapat nutrisi yang di butuhkan oleh tanaman. Bukankah kita sering melihat tanaman bisa bertumbuhkembang dengan baik meskipun tanpa di beri pupuk sekalipun? Pohon-pohon tersebut juga bisa berbuah dengan baik, bukan? Nah, itu maksud saya. Memang jauh lebih mudah menanam di tanah langsung daripada di pot yang kita harus merawatnya setiap hari seperti menyirami dan lain-lainnya.

Dari dulu memang saya sudah sangat menyukai bertanam. Tapi, karena kesibukan dan kurangnya pengetahuan tentang hal tersebut, akhirnya hobi tersebut kurang bisa saya lakukan dengan maksimal. Saya masih ingat saat saya menyempatkan menanam sawi di samping rumah saat musim penghujan. Saya berharap, bisa memanen setiap saat saat saya mau memasak mie instan atau buat ibu saya. Sama seperti bapak saya yang suka menanam cabe di pekarangan depan rumah. Saat berbuah, kami bisa memetik setiap saat saya makan gorengan. Benar-benar organik. Tanpa pestisida. Dan yang jelas, segar sekali karena di petik langsung. Sungguh nikmat rasanya.

Namun, Saya saat itu masih kuliah di Malang. Jadi, setelah menanam saya tinggal ke malang selama seminggu. Lalu, sawi tersebut saya biarkan saja karena memang musim hujan dan tidak perlu penyiraman yang intensif. Tapi hal yang tidak saya inginkan terjadi. Bukannya malah panen, tapi sawi-sawi tersebut malah rusak dan habis dimakan ayam tetangga. Bapak dan ibu saya jelas tidak tahu karena itu di samping rumah yang tidak bisa di awasi setiap hari. Saya pun juga menyadari bahwa seharusnya saya memasang pagar atau apa agar aman. Yah, tapi itulah pengalaman yang sampai sekarang saya masih ingat dengan jelas.

Begitupun juga dengan saat di malang, saya sering membeli bunga di pasar bunga splindid Malang untuk di tanam di rumah. Saat itu saya juga masih suka hobi burung. Kebetulan, pasarnya berdekatan dengan pasar burung. Saya sering bersama istri saya saat itu pergi ke pasar burung atau pasar bunga Splindid. Saya masih ingat ketika membeli bunga lavender agar bisa mengusir nyamuk yang ada di rumah Boyolangu saat itu. Tapi ya itu, setelah membeli saya tinggal lagi ke Malang. Tanaman tersebut saya biarkan begitu saja. Kadang-kadang bapak saya yang menyiraminya dan merawatnya.

Ketika memulai usaha kedai kopi, saya juga membeli tanaman untuk saya gunakan sebagai tanaman hias di kedai kopi saya.  Beberapa tanaman seperti palem yang murah tapi besar menjadi pilihan saya saaat saya berada di Sidoarjo kala itu. Selain itu tiga pohon cemara juga saya beli karena bentuknya yang bagus. Beberapa bunga gantung juga saya beli di toko tanaman yang ada di jalan Sidoarjo Surabaya saat itu. Semua tanaman di angkut bersama kakak saya.  Namun, karena lama menunggu kedai kopi buka, sebelum di pakai untuk menghias kedai kopi cemara-cemara tersebut sudah mati.

Kakak saya pun juga membawa tanaman dari rumahnya khusus untuk di tempatkan di kedai kopi agar terlihat bagus. Saya masih ingat kalau tidak salah bunga sansivera yang di bawa di mobil jeepnya saat itu.  Tapi karena kurang tahu perawatannya, setelah beberapa waktu bunga-bunga tersebut akhirnya juga mati satu persatu. Sayang sekali sebenarnya. Tapi mau di apakan lagi. Setelah saya ingat-ingat, tanaman tersebut ada yang kurang penyiraman dan ada juga yang kurang sinar matahari karena saya letakkan didalam kedai kopi. Jarang sekali saya menjemurnya.

Begitupun juga di kedai kopi yang ada di Ngunut, Tulungagung. Di sana saya juga membeli beberapa bunga seperti bunga pucuk merah, bunga jari-jari, gelombang cinta dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat saya masih di sana, semua terawat dengan baik. Sampai akhirnya, tanaman-tanaman tersebut juga mati dan kurang terawat saat saya pindah ke Boyolangu. Karyawan kedai kopi saya kurang bisa merawatnya karena memang kondisi kedai kopi juga ramai. Selain itu, mereka juga kurang tahu bagaimana merawat bunga-bunga tersebut.

Setelah di Boyolangu, saya mencoba membeli benih tanaman melalui toko tanaman online. Saya mencoba durian, cempedak dan nangkadak.  Namun, setelah beberapa lama, durian tersebut mati dan untuk cempedak dan nangkadak saya pindah ke tanah di depan rumah. Meskipun sempit, saya usahakan agar setiap hari dua tanaman tersebut bisa mendapatkan sinar matahari. Karena di tanah, keduanya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Meskipun masih kecil, akhirnya nangkadak yang merupakan silangan antara nangka dan cempedak tersebut mau berbuah. Kalau saya hitung-hitung, sebenarnya usia kedua tanaman tersebut memang sudah ada setahun lebih. Cuma karena keduanya lama di pot dan perkembanganya kurang maksimal, mereka tidak mau tumbuh apalagi berbuah.

pohon cempedak yang mulai tumbuh
pohon cempedak yang mulai tumbuh

Puas nangkadak saya berbuah, saya pun akhirnya membeli dua kelengkeng atau klengkeng. Saya membelinya juga karena tidak sengaja. Suatu sore, ada pedagang tanaman yang menjual aneka tanaman buah dengan sepeda. Pertama saya kasihan juga dengan penjualnya. Barang dagangannya kalau tidak salah cuma 4 atau lima. Ada tiga klengkeng dan satu jeruk. Saya tidak menawarnya karena saya memang pada saat itu kurang berminat.  Lalu ibu saya menawar 20 ribu untuk satu klengkeng. Setelah beberapa saat, pedagang tersebut memberikan harga 20ribu asal klengkeng yang biasa dan bukan yang bagus. Pada saat itu memang ada dua jenis, yang satu jenis biasa dan yang dua adalah jenis yang bagus. Karena ibu saya tidak mau dan maunya hanya yang bagus untuk harga tersebut akhirnya pedagang tersebut tidak mau dan pedagang tersebut pergi.

nangkadak silangan buah nangka dan cempedak dari toko tanaman online yang saya beli
nangkadak silangan buah nangka dan cempedak dari toko tanaman online yang saya beli

Selang sehari kalau tidak salah, ada yang mencari ibu saya. Kakak saya yang memberi tahu karena memang pada saat itu dia sedang merangkai besi untuk mendirikan rumahnya di sebelah.  Ternyata setelah saya keluar, yang mencari adalah bapak pedagang tanaman yang kemarin sore datang. Dia kali ini kembali menawarkan tanamannya kepada ibu saya. Sebetulnya, dia mampir kerumah karena hujan. Lalu, karena saya kasihan saya pun akhirnya mau membeli dua buah klengkeng jenis yang bagus dengan harga 50ribu rupiah. Saya juga kurang yakin apakah klengkeng tersebut memang dari jenis yang bagus. Kata pedagangnya sih bisa cepat berbuah karena memang di stek dengan dahan dari jenis klengkeng yang genjah. Tapi ya sudah lah. Saya beli juga. Meskipun tidak ada lahan. Akhirnya saya berencana menanamnya di samping cempedak dan nangkadak saya.  Sedangkan yang satunya, saya tanam sementara di tempat dulu nangka saya tumbuh tidak sengaja di depan rumah.

pohon klengkeng atau kelengkeng yang baru saja saya beli dari pedangang keliling
pohon klengkeng atau kelengkeng yang baru saja saya beli dari pedangang keliling

Semoga saja, keduanya bisa hidup dan mau berkembang dengan baik. Mau besar dan mau berbuah. Bisa bermanfaat buat makhluk yang lainnya. Menjadi amal jariyah dan bisa menjadi inspirasi buat pembaca semuanya.  Saya juga punya planing, setelah agak besar saya akan memindahkannya di lahan yang mungkin agak besar. Di belakang rumah saya rencananya akan di buka atapnya untuk di jadikan tempat jemuran sekaligus dapur sehingga saya mungkin bisa memindahkan ketiga tanaman tersebut di sana.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *