Posted on

Ini Cara Lengkap Penangkaran Burung Murai Batu Yang Prospektif

Daftar Isi:

*Persiapan indukan

*Resiko Kegagalan Penjodohan Murai Batu

*Penjodohan Murai Batu

*Ukuran Ideal Kandang Penangkaran

*Beternak Murai Batu di Lahan Terbatas

*Murai Batu Tidak Bertelur

*Indukan Membuang Anakan

*Penyakit Murai Batu dan Penanganannya

*Penyakit Murai Batu Anakan

*Penyakit Murai Batu Dewasa

*Video Penangkaran Murai Batu

 

Salah satu bisnis yang bisa di lirik untuk di jadikan usaha sampingan maupun usaha utama adalah beternak murai batu. Sudah banyak yang sudah berhasil dan meraup keuntungan dari menangkarkan burung yang memiliki warna hitam dan coklat ini. Tren harganya juga stabil dan cenderung meningat dari tahun ke tahun membuat bisnis murai batu menjadi pilihan yang tepat karena bukan merupakan salah satu bisnis musiman yang cepat booming lalu langsung turun secara drastis.

Selama lebih dari 7 tahun dalam mengembangkan bisnis ini, saya mencoba sharing pengalaman saya di sini. Semoga bisa menjadi manfaat buat yang ingin belajar beternak murai batu yang bisa meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat pada umumnya. Karena terbatasnya waktu, saya akan coba menuliskan cara menangkarkan murai batu ini dalam beberapa bab. Masing-masing bab akan saya ulas dengan lebih detail sehingga memudahkan pembaca dalam mencari dan mempelajarinya. Di bawah ini ada beberapa bab yang nantinya saya harap bisa di klik menuju ke artikel pembahasanya seperti index yang sudah jadi seperti di atas. Saya berharap dengan sistem ini pembaca bisa lebih mudah dalam mencari bab-bab yang sedang di carinya.

      • Jenis Murai Batu
      • Persiapan indukan
      • Memelihara Indukan Dari Kecil
      • Mencari Indukan Yang Sudah Jodoh
      • Membeli Indukan Yang Sudah Produksi
      • Mendapatkan Indukan Jebol Kandang
      • Resiko Kegagalan Penjodohan Murai Batu
      • Penjodohan Murai Batu
      • Perilaku Murai Batu Yang Sudah Jodoh
      • Saat Indukan Murai Batu Menyusun Sarang
      • Ciri Jantan Dan Betina
      • Persiapan kandang
      • Kotak Sarang Murai Batu
      • Beternak Murai di Lahan Terbatas
      • Ukuran Ideal Kandang Penangkaran
      • Indukan Tidak Mau Bertelur
      • Indukan Tidak Mau Mengeram
      • Indukan Memakan Telur
      • Indukan Membuang telur
      • Mengenal Telur Murai Batu Lebih Dekat
      • Penanganan Bila Telur Tidak Menetas
      • Pengecekan Kotak Sarang di Kandang Penangkaran
      • Telur Tidak Menetas (Kosong)
      • Indukan Membuang Anakan
      • Indukan Memakan Anak
      • Telur Murai Batu Tidak Menetas
      • Telur Pecah Dalam Perut Indukan Sebelum Keluar
      • Menangkar Murai Batu Di Area Bising
      • Anakan Murai Batu
      • Memanen Anakan Dari Dalam Kotak Sarang
      • Cara Meloloh Anakan Murai Batu
      • Bila Anakan Salah Makan
      • Cara Pemasanagan Cincing/Ring Pada Anakan Murai Batu
      • Sistem Poligami Pada Penangkaran Murai Batu
      • Memaster Burung Murai Batu
      • Perawatan Anakan Murai Batu
      • Menangani Murai Batu Yang Ganti Bulu/Mabung
      • Penyakit Murai Batu dan Penanganannya
      • Penyakit Pada Anakan
      • Penyakit Pada Murai Batu Dewasa
      • Murai Batu Kehabisan Minum? Ini Penangangannya
      • Cara Memegang Murai Batu
      • Video Penangkaran Murai Batu

 

Persiapan Indukan

Setelah menentukan jenis murai batu apa yang ingin di ternak, maka kita bisa mulai mencari indukan untuk kita jadikan calon indukan. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan calon indukan. Mulai dari mencari yang sudah jodoh, sudah pernah produksi atau juga bisa memelihara sejak kecil. Masing-masing ketiga cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, kita bisa memilih cara mana yang paling cocok dan sesuai untuk kita. Jumlah indukan ini juga harus di sesuaikan dengan anggaran yang kita miliki karena selain indukan, ada dana lain yang harus kita persiapkan seperti untuk pembuatan kandang dan lain sebagainya. Jangan sampai, kesalahan pemilihan cara ini bisa membuat kita gagal di tengah jalan selama mencoba bisnis burung murai batu ini.

Berikut ini adalah salah satu indukan pejantan dari burung murai batu yang bisa di jadikan contoh yang bagus untuk calon indukan. Pejantan ini mempunyai ekor yang cukup panjang yaitu sekitar 22 cm. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pada burung ini semakin panjang ekor akan semakin bagus. Namun, untuk awal kita bisa menggunakan calon indukan dengan ekor yang tidak terlalu panjang agar tidak terlalu mahal.

Burung yang kita pilih sebaiknya yang memang benar-benar dalam kondisi sehat. Tanda yang bisa di kenal dari burung yang sehat ini adalah dari bulunya yang mengkilap dan lincah. Bila bulu dalam kondisi kusam, bisa dimungkinkan burung tersebut tidak dalam kondisi sehat atau memang mau ganti bulu. Sedangkan bila mau ganti bulu, sebaiknya calon indukan seperti ini tidak di gunakan dahulu karena akan butuh waktu untuk proses ganti bulu selama sekitar 2 bulanan. Hal lain yang lain yang bisa di perhatikan adalah kondisinya sehat dan memang bisa bereproduksi dengan baik tanpa ada halangan.

Resiko Kegagalan Penjodohan Murai Batu

Untuk menjodohkan murai batu memang tidak semudah menjodohkan burung kenari atau burung lovebird. Penanganan pada penjodohan burung ini memang relatif lebih susah.  Namun bila kita mau berusaha dan bersungguh-sungguh, semua itu tetap bisa di usahakan. Buktinya, banyak peternak yang berhasil menjohkan murai batu. Bila terus belajar, maka kita akan lebih banyak pengalaman yang nantinya kita akan lebih mahir dalam menjodohkan burung murai batu. Yang perlu di perhatikan, selama proses penjodohan ada resiko-resiko yang perlu kita ketahui bila ingin menjodohkan burung murai batu. Karena sifat fighternya yang sangat kuat, burung ini cenderung teritorial dan sangat melindungi daerah kekuasaannya. Maka dari itu, saat di satukan burung ini berpeluang saling serang yang menyebabkan salah satunya terluka hingga bisa menyebabkan kematian. Berikut ini adalah video saya dulu saat gagal dalam menjodohkan burung murai batu.

Dan bagaimana bila kita mengalami kejadian seperti itu? Salah satu cara yang tepat adalah segera menyelamatkan salah satu indukan yang di serang sebelum terlambat. Karena bila terlambat, maka burung bisa mati karena murai batu adalah burung fighter yang sangat pintar dalam menyerang burung lain. Dalam hitungan menit, burung bisa mati di patuk oleh burung murai batu yang lain karena paruh burung ini sangat tajam dan dia akan mematuk kepala burung lain dengan sangat keras sehingga kepala murai batu bisa terluka hingga burung bisa mati. Burung yang di serang sebaiknya di pindahkan ke sangkar burung lain dan di beri obat penyembuh luka. Berikut video saat saya menyelamatkan burung murai batu betina yang di serang oleh burung murai batu jantan.

Penjodohan Murai Batu

Melihat resiko penjodohan di atas yang terlalu besar, maka kita harus sangat ekstra hati-hati selama menjodohkan burung petarung tersebut. Untuk menjohkan murai batu bisa di lakukan dengan beberapa cara.  Salah satu caranya adalah dengan cara mendekatkan terlebih dahulu calon indukan yang ingin di jodohkan. Kedua calon indukan jantan dan betina masing-masing di tempatkan di sangkar tersendiri dan keduanya di dekatkan dengan jarak sekitar dua meter selama beberapa hari. Biasanya, bila memang indukan siap maka pejantan akan rajin berkicau untuk menarik perhatian sang betina. Begitupun dengan yang indukan betina. Bila siap, indukan betina akan menyahutnya dengan kicauan meskipun tidak sesering kicauan calon indukan murai batu jantan. Dalam tahap ini saya menamakannya dengan penjodohan awal untuk mempermudah pembahasannya saja.  Anda bisa melihat videonya dalam channel youtube di bawah ini.

Setelah beberapa hari, maka keduanya biasanya sudah berjodoh di tandai dengan seringnya mereka berdekatan dan tidak saling serang. Bila tanda-tanda tersebut sudah terjadi, maka kedua calon indukan bisa lebih dekatkan sebelum di satukan ke dalam kandang penangkaran. Memang cara ini lebih lama. Namun, cara ini lebih efektif dan bisa mengurangi resiko kegagalan saat penjodohan.  Berikut ini adalah video saat penjodohan burung murai batu saat di sangkar gantung yang sudah di dekatkan:

Ukuran Ideal Kandang Penangkaran

Sebenarnya, tidak ada ukuran yang ideal untuk menangkan burung yang mempunyai ekor yang panjang ini. Penangkaran murai batu pada dasarnya menyamakan kondisi dengan yang ada di alam. Maka dari itu, semakin luas akan semakin baik untuk beternak murai batu ini. Namun, karena nanti ada faktor lain seperti lahan yang terbatas dan lain sebagainya, ada ukuran minimal yang bisa di terapkan untuk bisa berhasil menangkarkan burung dengan suara keras dan variatif ini.

Menurut pengalaman saya, ukuran kandang dengan tinggi 2 meter, panjang 1 meter dan lebar 1 meter sudah bisa untuk menangkarkan burung ini. Bila lebih lebar dari itu, tentu akan semakin baik karena burung akan lebih bebas dan nyaman berada di kandang yang lebih besar. Namun yang di perhatikan, kandang yang besar akan membuat pemilik akan lebih susah dalam menangkapnya kembali bila di perlukan seperti untuk penjodohan dengan burung lain, akan di pindah  dan lain sebagainya. Selain ukuran ini, kandang dengan lebar 2 meter, panjang 1 meter dan tinggi 2 meter juga bisa di gunakan sebagai kandang penangkaran murai batu.

Bila lahan yang Anda miliki sempit dan terbatas, penggunaan sangkar gantung atau sangkar biasa juga bisa di gunakan sebagai media untuk berternak murai batu. Yang perlu di perhatikan untuk bisa berhasil di lahan terbatas ini tentu saja kenyamanan indukan dari predator dan lalu lalang manusia yang bisa menyebabkan tidak berhasilnya cara ini.

Beternak Murai di Lahan Terbatas

Mulai dari percobaan menangkar di sangkar gantung hingga di sangkar kotak yang biasa di gunakan untuk menangkar lovebird pernah saya coba. Beberapa di antaranya sempat saya upload ke dalam video di youtube tiap-tiap perkembangannya. Mulai dari saat indukan yang sudah berjodoh dan di satukan di sangkar kecil yang biasa di gunakan untuk love bird.  Silahkan lihat videonya di sini  : Ini..!! Reaksi Calon Indukan Murai Batu Yang Dilepaskan Di Kandang Kecil )

Beberapa pengalaman tersebut di antaranya berhasil membuat sarang dan bertelur namun indukan tidak mau mengeraminya hingga menetas. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya adalah terlalu dekatnya dengan jalan yang sering di lalui manusia hingga burung takut bila saya masukan tangan ke sangkar saat memberi pakan atau minum. Melalui berbagai pengalaman di atas, cara ini bisa berhasil bila indukan jinak dan lokasi penempatan sarang juga aman dan membuat burung nyaman. Beberapa sharing dari pemirsa juga ada yang katanya bisa berhasil namun sangkar yang di gunakan adalah dua sangkar lovebird yang di jadikan satu sehingga lebih lebar dan luas. Berikut ini adalah video burung murai batu yang mau menyusun sarang di kotak yang berada di dalam sangkar kecil. Anda bisa melihat videonya di link ini : Sungguh Telaten Sekali, Indukan murai ini menyusun sarang di sangkar yang kecil Sasang Priyo Sanyoto . Atau Anda juga bisa melihat langsung videonya di bawah ini :

Hasil dari eksperimen tersebut juga sempat saya dokumentasikan dalam salah satu video yang saya unggah di youtube.  Saya berharap, apapun hasil yang saya capai bisa tetap bisa menjadi inspirasi buat teman-teman yang ingin menangkarkan murai batu. Yang penting, bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan selama proses belajar agar tidak terulang kesalahan yang sama. Berikut video dari saya yang bisa Anda lihat di youtube :

 

Murai Batu Tidak Bertelur

Keberhasilan penjodohan sepasang murai batu tentu langsung akan membuat kita senang. Akan tetapi, ini adalah satu langkah awal dari beberapa langkah terjal yang harus bisa di lewati oleh calon peternak.  Boleh jadi indukan yang baru saja jodoh tersebut dalam waktu dekat akan segera menyusun sarang lalu bertelur. Akan tetapi, ada juga indukan yang hanya mau menyusun sarang akan tetapi tidak bertelur di dalamnya.  Hal ini pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Salah satu calon indukan saya hanya membuat sarang tapi tidak pernah mau bertelur.  Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya sarang saya buang ke dasar kandang agar indukan tersebut mau menyusun sarang kembali. Hal ini bisa di sebabkan oleh indukan yang kurang nutrisi atau memang usianya kurang matang.  Biasanya, hal ini terjadi pada indukan yang masih belum berpengalaman.  Solusinya, kita harus sabar menunggu sampai usianya lebih matang dan memberikan nutrisi yang lebih baik. Pemberian kroto, ulat kandang, jangrkik harus full di berikan setiap saat dan jangan sampai kehabisan.  Untuk memproduksi telur, indukan betina tentu saja membutuhkan nutrisi yang sangat tinggi. Di perlukan protein dalam kadar lebih tinggi agar tubuhnya mampu menghasilkan telur dalam perutnya.

Indukan Membuang Anakan

Tidak seperti menangkar burung lain, murai batu memang sedikit berbeda. Ada beberapa pejantan yang sangat sensitif terhadap kehadiran murai batu lain. Bahkan terhadap anakannya sendiri.  Bila ternyata proses penjodohan berhasil, indukan akan bertelur dan akhirnya bisa menetas. Namun, sampai di sini tidak semua proses penangkaran akan berjalan mulus.  Sampai usia seminggu, biasanya anakan sudah mengeluarkan suara khas anakan. Nah, pada saat ini biasanya sang pejantan akan mengenali dan melihatnya sebagai sebagai seekor murai batu lain walaupun itu anaknya sendiri.  Secara naluri, pejantan seperti ini akan menyingkirkan ‘gangguan’ tersebut dan mau tidak mau, anakan tersebut akan di hajar atau paling tidak di buang hingga anakan tersebut mati.  Tidak semua pejantan seperti ini. Namun, adakalanya pejantan sangat sensitif yang memiliki kharakter seperti ini.  Akan tetapi, untuk menyiasatinya peternak bisa segera mengambil anakan agar tidak di buang oleh indukan jantannya. Untuk indukan dengan kharakter seperti ini, semakin cepat anakan di ambil akan semakin baik seperti saat usia 2 atau 3 hari sebelum anakan bersuara. Karena bila semakin lama, maka anakan akan mengeluarkan suara yang lebih keras sehingga bisa di dengar oleh indukan.

Penyakit Murai Batu dan Penanganannya

Selama dalam pemeliharaan pemiliknya, tidak jarang murai batu bisa sakit sebagaimana makhluk hidup yang lainnya. Tidak hanya terjangkit pada burung yang di pelihara di sangkar, namun di kandang juga bisa saja terjadi. Ada beberapa penyebab dari timbulnya penyakit pada burung ini.  Mulai dari kondisi sarang atau kandang yang tidak bersih dan lain sebagainya.

Tertularnya penyakit dari burung lain juga bisa menjadi salah satu pemicu dari munculnya penyakit ini.  Bila tidak segera di tangani, penyakit ini akan bisa tambah lebih parah dan menular ke burung yang sehat yang berada di dekatnya khususnya untuk penyakit yang menular seperti tetelo dan lain sebagainya.  Pada bagian ini biasanya ada beberapa penyakit yang menyerang burung murai batu yaitu pada anakan dan pada murai batu dewasa.

Penyakit Murai Batu Anakan

Pada anakan murai batu usia 0 hari hingga 2 bulanan, kondisi burung masih belum sekuat murai batu dewasa. Maka dari itu, perlu perawatan yang lebih hati-hati agar anakan murai batu tidak mudah sakit. Penyakit yang sering menjangkiti anakan ini adalah di tandai dengan gejala yaitu burung tiba-tiba menjadi sesak, tidak mau makan dan terlihat lesu. Bila tidak di tangani dengan serius, maka anakan ini tubuhnya akan semakin kurus karena tidak ada asupan makanan yang masuk dan lalu burung bisa mati. Berikut ini adalah video anakan murai batu usia 2 bulan yang sedang sakit sesak nafas. Kalau tidak salah, pada akhirnya anakan tersebut mati karena memang pada saat itu belum di ketahui penyebabnya dan apa obatnya.

Penyakit Murai Batu Dewasa

Sedangkan untuk murai batu yang sudah dewasa, maka penyakit yang bisa menjangkitinya adalah penyakit tetelo. Gejala dari penyakit ini adalah tiba-tiba burung menjadi kejang dan kehilangan keseimbangan. Bila tidak segera di tangani, maka burung bisa tidak makan sehingga badannya menjadi kurus dan lama kelamaan burung juga bisa mati. Yang paling terlihat adalah bagian dada yang tiba-tiba tinggal tulang yang menunjukkan bahwa burung ini menjadi sangat kurus. Padahal, bila kondisi normal, dada burung penuh dengan daging.

Seperti di video pertama di bawah ini, akhirnya burung ini mati padahal ini adalah indukan yang pernah produktif. Tidak lama selang burung ini meninggal, pejantaanya dulu juga ikut mati. Berikut ini adalah beberapa video yang menunjukkan burung murai batu dewasa yang terkena penyakit tetelo:

Yang perlu di perhatikan, burung yang sudah terkena penyakit tetelo masih bisa berpeluang kembali kambuh. Pengalaman saya beberapa waktu yang lalu mengalami hal ini. Setelah di obati, beberapa bulan kemudian burung yang pernah tetelo ini kambuh dan akhirnya sembuh karena saya obati dengan obat yang sama dengan yang dulu. Obat ini biasa di beli di pasar burung. Dalam mengobati burung yang sudah sakit ini harus tenang karena bila tidak hati-hati maka obat bisa masuk ke saluran pernafasan yang membuat burung bisa langsung mati.

Sedangkan obat harus masuk kedalam saluran pencernan. Bila tidak berpengalaman, maka pemilik bisa salah dan mengira saluran pernafasan sebagai saluran pencernaan. Dan begitu juga sebaliknya. Porsi untuk obat ini hanya dua tetes yang di berikan dalam beberapa tahap. Anda bisa membacanya di bagian label obat yang berwarna biru ini.  Silahkan lihat bagaimana cara penyebuhan dengan obat ini di video yang saya sudah unggah di youtube ini:

Biasanya, setelah pengobatan pertama selang beberapa jam burung sudah menunjukan perbaikan kondisi. Burung tidak lagi kejang-kejang dan mendongakan kepalanya. Bila sudah di obati, burung menjadi diam untuk beberapa saat untuk sementara waktu. Setelah beberapa jam, biasanya burung sudah terlihat normal meskipun belum mau makan. Setelah itu, selang beberapa lama kemudian baru burung mau makan dan sudah kembali normal.

Bila kondisi tidak membaik, maka obat bisa diberikan kembali sesuai dosis dan petunjuknya. Saya pernah memberikannya dua kali tapi yang paling sering sekali pengobatan biasanya sudah menunjukan kondisi yang lebih baik. Maka dari itu, setelah pengobatan pertama pemberian obat saya hentikan dan tidak saya berikan lagi hingga menunggu kondisi burung benar-benar baik atau masih belum. Bila belum, maka pemberian obat ke dua baru saya lakukan.

Video Penangkaran Murai Batu

Bila sempat, beberapa pengalaman saya selama memelihara dan merawat burung murai batu ini saya dokumentasikan. Baik dalam foto hingga video seperti yang sudah saya posting di atas. Terakhir ini, agar bisa lebih mudah di pahami saya membuat video ulasan seperti vlog yang akan saya upload di situs berbagi video terbesar saat ini yaitu Youtube.Com. Tidak terasa, sudah berkumpul tidak hanya satu atau dua video yang berhasil saya dokumentasikan melainkan ada puluhan lebih video yang bisa Anda simak. Beberapa video tersebut juga saya kumpulkan menjadi beberapa bagian khusus seperti ada video-video tentang murai batu kicauan dan video khusus ternak murai batu. Masing-masing video tersebut memang bisa di kelompokkan ke dalam beberapa grup. Kalau di Youtube, pengelompokan tersebut bisa di masukan kedalam “playlist’.  Berikut ini beberapa video khusus tentang cara menangkar murai batu.

 

Sedangkan untuk link menuju ke halaman video-video tersebut Anda juga bisa langsung ke halaman ini : https://www.youtube.com/playlist?list=PLxk_Sv6DHI981DFJjzkW10R8NfVyVDmP1 Bagi Anda yang ingin terus mendapatkan info-info terbaru mengenai apa saja video murai batu yang saya upload, anda bisa terus berlangganan dengan cara klik tombol “Subscribe” atau “Berlangganan” di bagian bawah video yang sedang Anda tonton di Youtube. Insya Allah, saya akan terus mencoba menghadirkan video dan tips-tips yang bermanfaat bagi siapa saja yang ingin belajar lebih jauh mengenai burung yang suka menirukan suara-suara lain ini. Dengan berlangganan, Anda bisa mendapatkan pemberitahuan bila ada video terbaru yang saya upload dari channel ini.